| Nama Lengkap | Sandyakala Rahagi |
|---|---|
| Nama Panggilan | Sandy |
| Tempat, Tanggal Lahir | Jakarta, 25 Desember 2004 |
| Jenis Kelamin | Laki-laki |
| Pekerjaan | Mahasiswa, |
| Domisili | Pondok Labu, Jakarta Selatan |
Sandyakala Rahagi, demikian nama yang dikaruniakan Ibu untuk sang anak lanang. Maknanya sederhana, cahaya kala senja, tercetus langsung dari dia yang anggap keberadaan saya bisa jadi pelita baginya kelak. Meski dia pun paham jika kadang doa-doa hanya berakhir jadi asa yang gak mungkin terjelma, termasuk bagaimana nama yang membebani pundak saya sulit untuk jadi nyata.
Saya hidup sewajarnya seorang pemuda. Mengejar ton-ton pencapaian duniawi supaya diakui, berlaku tanpa hati-hati khas sang keras kepala yang mengaku paling berani, dan ragam laku lain berbumbu kecerobohan. Sampai ketika usia menjelang kepala dua, saya ditinggal mati. Ibu meregang nyawa seakan merasa anaknya sudah cukup dewasa buat berdikari. Pada titik ini, hidup saya terasa gak berarti.
Duka yang saya rasai lebih pedih dibanding luka fisik ataupun batin yang pernah saya peroleh, namun berhenti bukan merupakan opsi. Nyatanya, kepergian Ibu gak serta-merta cipta dunia yang lebih nestapa, yang terjadi justru sebaliknya, meski duka hati saya bersemayam abadi.
Meneruskan hidup sama artinya mengeluarkan biaya. Hal itu, untungnya, gak seberapa jadi perkara. Pendidikan saya bergantung pada beasiswa yang sejak semester awal sudah rutin diterima. Untuk kebutuhan sehari-hari, ada seorang pria iba yang sukarela memenuhi. Dia pernah muncul dan mengaku sebagai kenalan Ibu. Teman dekat, katanya. Bila pun dia berbohong, saya gak peduli, yang penting hidup terjamin nyaman buat dijalani kendatipun berbayar harga diri.
Hari lanjut melaju dengan saya masih turut melangkah di dalamnya.**
Sandyakala Rahagi, demikian nama saya, sang anak lanang Ibu yang kini menjelajah bentala tanpa tuju.