https://music.youtube.com/watch?v=UMJm_97QXHA&si=d5qokP-dneE12UsJ

Hampir dua dekade saya habiskan hidup bersama Ibu. Dia mengasihi saya sedemikian rupa lewat sepasang tangannya nan renta, seorang diri tanpa siapapun di sisi.

Saya pikir wajar bilamana kasih yang Ibu beri gak selalu berbentuk elok. Ada kala kasihnya menjelma esem lembut selaku wujud pengakuan setiap saya berhasil gapai sesuatu. Lain waktu saat saya lalai, kasihnya berbentuk penghukuman berupa goresan atau lebam keunguan yang akan saya terima secara cuma-cuma. Kata Ibu, itu bentuk cinta. Maka, sepenuh hati saya percaya.

Ibu adalah pemberi cinta paling mulia. Terlepas cara yang digunakan batil sekalipun, saya mengenali keberadaan cinta di dalamnya, di mana-mana. Mereka menggelenyar dan memompa kehidupan pada sela jiwa melompong saya. Meski cinta milik Ibu jua kerap timbulkan mala, saya rasa bukan masalah karena sejatinya dia masih manusia. Cintanya gak selalu elok—lebih-lebih sempurna—tapi saya tahu bahwa itu tetap layak disebut cinta.

Hampir dua dekade saya habiskan hidup bersama Ibu. Namun semesta putuskan takdirnya untuk tamat lebih dulu. Ibu mati, saya tertinggal sendiri. Matinya gak seberapa terpuji, mengundang cemoohan dari mereka yang merasa lebih tinggi secara pribadi. Keheranan turut menyelimuti saat beberapa tetangga justru tampak lega, mengusap-usap pundak saya sembari mengujar bual gak berguna. Kata mereka, saya merdeka. Kata mereka, saya gak perlu lagi tersiksa. Masih kata mereka, saya kini bebas berkelana. Sayangnya, kata-kata mereka gak terdengar seperti bentuk kepedulian ataupun cinta.

Saya cuma punya Ibu, dan kini dia sudah beralih jadi abu selepas dikremasi. Dia pergi meninggalkan cinta dalam bentuk bekas lebam di lengan serta kaki, jua luka permanen pada mata kanan saya yang selalu ditutupi. Lucunya, badan saya malah mendamba mala lain buat mengunjungi, sebab begitulah cara Ibu dahulu mengasihi. Alih-alih merasa bebas dari sang pemberi nestapa, dunia beralih asing tanpa Ibu dan segala cinta yang dia bawa biarpun dalam wujud batil dan tercela.

Larik kisah saya dan Ibu gak akan berlanjut lagi. Tapi, saya percaya perpisahan ini cuma sementara. Sampai nanti saatnya, mungkin saja kami berdua dipertemukan kembali di neraka—bila ada.